Teknik Budidaya Sapi Potong Menguntungkan

ternak sapi potong menguntungkan
Sapi Holstein sumber wikipedia
Sapi potong mempunyai peranan yang angat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena sapi potong mempunyai beberapa fungsi antara lain : Sebagai sumber protein hewani yang berkualitas tinggi. Sebagai sumber tenaga kerja. Sebagai alat transportasi. Sumber pupuk kandang. Sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat kita jual. Sebagai sumber bahan baku industri. Sebagai hewan yang dibutuhkan dalam upacara keagamaan.
Melihat fungsinya yang begitu besar , maka sepatutnya ternak sapi potong ini mendapat perhatian supaya populasinya tetap terjaga. Dawasa ini populasi sapi potong cenderung menurun dari tahun ke tahun sehingga terjadi kekurangan populasi di dalam negeri, sehingga untuk kebutuhan sapi di dalam negeri terpaksa harus diimport dalam jumlah yang cukup besar.
Ada beberapa bangsa sapi potong/daging yang dapat ditemukan di Indonesia antara lain : sapi Bali, sapi Madura, sapi Onggole dan sapi Brahman. Disamping itu ada beberapa bangsa sapi potong yang sudah diimport ke Indonesia baik sebagai ternak hidup maupun dalam bentuk semen (mani) beku untuk disilangkan dengan ternak-ternak lokal. Sapi-sapi tersebut antara lain : Limousin, aberden angus, Shorthorn, Hereford dll.
Memelihara sapi potong termasuk usaha tani yang cukup menguntungkan. Sebagai ilustrasi, usaha penggemukan sapi Bali. Dengan pakan sederhana bias diperoleh pertambahan berat badan 0,5 kg/ekor/hr. Jika harga berat hidup @ Rp. 25.000/kg maka kita bias memperoleh keuntungan Rp. 12.500/ekor/hari atau Rp. 375.000/ekor/bulan.

Pemeliharaan ternak sapi potong

1. Pemilihan ternak

Langkah pertama adalah menentukan jenis sapi potong yang akan dipelihara, bangsa sapi lokal (sapi Bali, sapi Madura, dll) atau import (sapi Brahman, Shorhorn dll). Factor utama yang perlu ipertimbangkan adalah sarana dan prasarana yang dimiliki. Memelihara sapi lokal memerlukan sarana dan prasarana yang lebih sederhana dibandingkan dengan jika memelihara sapi import. Setelah menentukan jenis sapi yang akan dipelihara, maka langkah selanjutnya adalah menentukan sapi yang termasuk bibit unggul dengan kriteria sebagai berikut :
  • Pertumbuhan sapi sesuai dengan umurnya
  • Bentuk tubuh yang seimbang.
  • Telah diketahui sifat baiknya.
  • Pandai mengasuh anak waktu melahirkan.
  • Dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

2. Kandang

Daerah yang padang rumputnya masih luas, sapi-sapi masih dapat dipelihara secara ekstensif (dibiarkan berkeliaran di padang rumput mencari pakan sendiri tanpa diberi fasilitas kandang). Namun bagi daerah yang lahan untuk ternak sudah sangat terbatas, fungsi kandang sangat penting untuk memudahkan pemeliharaan tanpa mengganggu kepentingan manusia. Persyaratan kandang sapi yang baik adalah :
  • Terbuat dari bahan-bahan yang murah tetapi kuat.
  • Terang dan aliran udaranya bagus
  • Atap genting/rumbia/ilalang.
  • Lantai sebaiknya disemen atau dipadatkan
  • Ukuran kandang disesuaikan dengan jenis dan jumlah sapi yang dipelihara. Seekor sapi betina membutuhkan kandang seluas 3,5 m2 (1,4-1,6m x 1,8-2 m). sedangkan untuk sapi jantan seluas 12 m2 dan untuk pedet sekitar 1,2m2. Luasan ini masing-masing sudah termasuk tempat makan dan minum.

3. Pakan.

Pemberian pakan pada sapi disesuaikan dengan umur (pedet atau dewasa) dan tujuan pemeliharaannya (pejantan, induk atau untuk penggemukan). Kebutuhan pakan sapi sekitar 3% dari berat hidupnya. Makanan utuama sapi adalah rumput hijau/segar dan rumput kering atau jerami. Selain hijauan ini sapi juga membutuhkan pakan tambahan atau konsentrat terutama bila sapi tersebut dalam masa pertumbuhan dan menyusui.

4. Penyakit.

Untuk mencegah terjadinya penyakit maka perlu langkah-lagkah antara lain :
  • Bila hendak memasukkan sapi baru ke dalam kelompok yang ada, pilihlah sapi yang sehat.
  • Air yang tergenang harus segera dialirkan dan dikeringkan.
  • Pisahkan sapi-sapi yang dicurigai sakit.
  • Adakan testing regular terhadap penyakit-penyakit tertentu seperti brucellosis.
  • Adaka program vaksinasi.
  • Adakan inspeksi terhadap peralatan kandang secara teratur.
  • Luka-luka harus segera diobati.
  • Lakukan penyemprotan terhadap parasit eksternal.

Pengembangbiakan

Untuk memudahkan penanganan ternak maka kelahiran anak sapi dengn umur relative bersamaan perlu diupayakan. Oleh sebab itu musimkawin perlu diatur hanya terjadi sekitar 4 bulan saja. Selama 4 bulan ini sekitar 80% ternak sudah bunting. Bila perkawinan alam, tugas untuk mencari betina yang berahi dilakukan oleh jantan sendiri. Namun jika perkawinan dengan memakai teknik inseminasi buatan (IB), maka deteksi berahi dilakukan oleh petani atau inseminator. Tanda-tanda berahi yang sering Nampak adalah : gelisah, keluar lendir dari tempat jalan lahir, dan diam bila dinaiki. Berahi ini biasanya berlangsung singkat yakni sekitar 3 minggu kemudian. Lama kebuntingan sekitar 285 hari. Munculnya berahi pertama setelah kelahiran sekitar 2-3 bulan. Munculnya pubertas sekitar umur 8-12 bulan. Sebaiknya ternak betina dikawinkan jika telah mencapi dewasa tubuh.
Perkawina menggunakan tekni IB mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan denga kawin secara alami antara lain:
  • Menguranig biaya pemeliharaan pejantan.
  • Memperoleh keturunan ternak yang kualitas genetisnya tinggi
  • Memungkinkan terjadinya perkawinan yang berbeda ukuran tubuhnya.
  • Memungkinkan perkaina antara ternak lokal dengan pejantan impor melalui impor semen beku.
  • Menghindari inbreeding.
Nah, demikian sekilas tentang budidaya sapi potong kali ini. Mudah-mudahan kita juga dapat melakukan budidaya ternak sapi potong dengan baik dan menguntungkan. Jangan lupa untuk selalu cek kesehatan sapi-sapi Anda. Dan segera hubungi dokter hewan jika menenemui gejala yang tidak baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar